‘From Batavia With Love’ adalah buku yang tepat dan juga buku yang gw tunggu” selama ini. Akhirnya Tuhan menjawab juga doa gw (thank you, God). Kenapa? Karena gw suka dengan crita” yang ada sejarahnya (ato ga mengenai jaman dulu gitu deh), dan juga ada romantis”nya. Dan sekali lagi gw bilang, buku yang tepat untuk gw.
Cerita cinta ini berlokasi di tahun 1905, saat Indonesia masih berada di bawah jajahan Belanda, dan juga di akhir tahun 2006 dan awal 2007.
‘From Batavia With Love’ menceritakan tentang kisah cinta Pieter van Reissen, seorang pemuda Belanda, yang jatuh cinta kepada gadis pribumi bernama Yasmin. Cinta mereka akhirnya berkembang, dan sebelum Pieter kembali ke Den Haag karena liburannya di Batavia sudah berakhir, ia melamar Yasmin, dan berjanji akan berjuang melawan keluarga mereka agar menyetujui hubungan itu. Pieter juga berjanji bahwa ia akan kembali lagi ke Batavia setelah enam bulan.
Namun, setelah Pieter sampai di Den Haag, pamannya dan orang tuanya bersekongkol untuk menipu Pieter, dengan mengatakan bahwa Yasmin sudah dinikahkan dengan lelaki lain. Pieter menjadi kalap, dan tanpa pikir panjang ia menyetujui perjodohannya dengan seorang gadis Belanda.
Di Batavia, Yasmin juga mengalami hal yang sama. Ia diberitahu bahwa Pieter sudah menikah dengan orang lain. Akhirnya ia pun harus dinikahkan dengan seorang pria yang bahkan tidak ia kenal.
Keduanya menderita. Yasmin yang pergi terlebih dahulu. Ia meninggal setelah melahirkan putra pertamanya. Pieter terlambat menengoknya. Pemuda itu sampai di Batavia seminggu setelah kematian Yasmin, dan ia tidak diperbolehkan mengunjungi makam Yasmin. Ia melarikan dri dengan cara mabuk-mabukan, berkelahi dan sebagainya. Sampai suatu saat warga pribumi setempat tidak bisa lagi menerima tingkah lakunya yang keterlaluan itu, dan mereka pun mengejar Pieter. Sungguh malang dirinya, meninggal karena tercebur ke sebuah sumur.
99 tahun 9 bulan kemudian.
Seorang pemudi bernama Tara, yang kebetulan harus menemani dua orang WNA pergi mengunjungi Museum Fatahillah. Sejak dari tempat itu, ia sering memiliki mimpi-mimpi aneh. Ia juga sering merasa pergi tahun 1905, menyaksikan adegan-adegan saat Pieter baru sampai di Batavia, pertemuan pertamanya dengan Yasmin, dan adegan-adegan lain yang bermakna bagi Pieter. Tak lama kemudian, arwah Pieter yang masih merasa ada suatu hal yang belum diselesaikannya di dunia ini menampakkan diri di hadapan Tara. Pieter ingin meminta suatu bantuan dari Tara, tetapi hal tersebut harus menunggu waktu yang tepat. Sambil menunggu waktu, Pieter pun mulai mengisi hari-hari Tara yang kosong.
Kehadiran Pieter membawa makna tersendiri bagi Tara. Pieter mengajarinya banyak hal tentang kebahagiaan dan hidup. Yang paling penting, Tara juga merasakan adanya suatu perasaan khusus yang tumbuh dalam dirinya terhadap Pieter.
Pada hari di mana ia mendapat tawaran pekerjaan untuk menjadi sekertaris tetap di sebuah perusahaan, Pieter meminta Tara untuk pergi ke suatu tempat untuk menuntaskan tugasnya itu. Dengan berat hati Tara mengiyakan, walaupun ia tahu bahwa ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Pieter. Ternyata Pieter meminta Tara untuk pergi ke makam Yasmin dan menaruh bunga melati di atas makam tersebut. Dengan begitu, berakhirlah perjalanan panjang Pieter di dunia ini. Ia rela menunggu seratus tahun untuk bisa pergi ke makam Yasmin dan menaruh bunga melati di situ. Seratus tahun yang panjang telah ia lalui hanya untuk bisa bergabung kembali lagi dengan Yasmin.
Awalnya Tara sedih, namun ia merasa bahwa ia pasti bisa melaluinya, dan keesokan harinya ia pergi ke perusahaan yang membutuhkan tenaganya itu untuk diwawancara. Bertemu dengan calon bosnya yang baru, ia melihat suatu hal yang amat sangat aneh, karena calon bosnya itu memiliki kemiripan yang amat sangat dengan Pieter.
Dan usut punya usut, Erick, pria yang mirip dengan Pieter itu memang keturunan kesekian dari Pieter, dan Tara adalah keturunan dari Yasmin.
———————————————————————————————
Such a happy ending. Pieter dan Yasmin tidak bisa bersatu di dunia ini, tapi keinginan dari keduanya itu bisa terwujud melalui keturunan mereka. Buat mba Karla, the author of this novel, I can only say: GREAT WORKS!! I love it sooooooooooooooo muuuuuuuuuucccccccccccchhhhhhhh!!



February 14th, 2008 at 5:05 pm
Wah thank ya info bukunya.. aku juga mau beli ah.. seru juga tuh.. percaya nggak percaya kejadian begitu emang terjadi.